7 Kesalahan Pendaki Gunung Pada Alam, Hasil Survey, 46,7% Pendaki Masih Melakukannya

kebanyakan pendaki masih melakukan kesalahan ini

Para pendaki gunung adalah sekumpulan orang-orang hebat, kuat, gagah dan pemberani. Bagaimana tidak, hobi mereka adalah melakukan pendakian gunung, menyusuri alam liar, berhadapan dengan tantangan dan persaudaraan di antara mereka pastilah kompak.

Rasa cinta yang berada dalam hati para pendaki gunung kepada alam pun pasti sudah bisa dipastikan, dengan seringnya bermain dan bercengkrama di tengah-tengah alam, pasti akan menimbulkan perasaan cinta yang mendalam di hati para pendaki gunung. Begitulah bayangan masyarakat luas tentang para pendaki gunung.

Namun, keadaan yang sebenarnya, bisa dikatakan jauh sekali dari bayangan masyarakat tentang pendaki gunung, pendaki gunung tidak segagah itu dan tidak secinta itu kepada alam. jika memang para pendaki gunung cinta kepada alam, maka gunung-gunung akan lebih indah, sampah tidak akan terlihat di gunung, batu-batu di gunung tidak akan ada coretan dan pohon-pohon di gunung tidak akan ada yang menguliti.

Bahkan ada sebagian orang yang memproklamirkan diri sebagai pendaki gunung, sahabat alam sejati dan pecinta alam, tapi perbuatannya sangat jauh dari norma-norma pecinta alam, mereka dengan mudahnya merusak alam. Sangat disayangkan, orang-orang yang seharusnya berada di barisan terdepan untuk menjaga kelestarian alam, khususnya kelestarian gunung, malah menjadi perusak alam.

Saling mengingatkan adalah tugas manusia yang harus dilaksanakan, bukan maksud mencari-cari keasalahan para pendaki gunung atau merasa diri sudah benar sendiri, namun saya hendak melaksanakan tugas kehidupan, saling mengingatkan di antara manusia.

Cara mencari solusi dari kerusakan alam yang sudah terjadi adalah menemukan titik salah dari pemeran, yakni para pendaki gunung, dan kita sama-sama memperbaiki kesalahan tersebut. Hasil dari analisa, inilah 7 dosa para pendaki gunung kepada alam yang harus segera dihentikan.

1. Masih Melakukan Vandalisme Saat Melakukan Pendakian


vandalisme

Apa itu vandalisme?, vandalisme adalah menempelkan foto atau menuliskan nama di atas bebatuan atau pepohonan yang dianggap foto atau tulisan tersebut akan awet menempel pada batu dan pohon itu.

Banyak alasan memang, kenapa para pendaki melakukan vandalisme ketika mereka melakukan sebuah pendakian, mungkin supaya nama dia atau nama komunitasnya terkenal, atau hanya ikut-ikutan teman seniornya yang melakukan vandalisme. Entahlah, hanya mereka dan tuhan yang tahu.

Terlepas dari alasan itu semua, tetap saja, vandalisme adalah sebuah kejahatan terhadap alam dan tidak ada alasan untuk pembenaran kenapa mereka melakukan vandalisme. Jika ada pendaki gunung yang melakukan vandalisme, maka seolah dia sudah mencoreng nama baik pendaki gunung dan merusak makna pecinta alam.

Vandalisme menyebabkan kerusakan pada ekosistem alam, mengurangi keindahan gunung, membuat gunung tidak lagi terlihat alami dan membuat alam murka kepada manusia. Sebagaimana kutipan dari perkataan seorang pendaki tersohor,

Jika manusia menjaga alam, maka alam akan menjaga manusia. Jika manusia merusak alam maka alam tidak akan lagi menjaga manusia.

Oleh karena itu, hentikan vandalisme dimulai dari diri sendiri dan ingatkan teman-teman kita supaya tidak melakukan vandalisme.

2. Membuang Sampah Sembarang di Gunung


buang sampah di gunung

Kita sebagai manusia yang hidup di bumi ini sangat bergantung sekali kepada alam. makanan, minuman dan pakaian yang kita butuhkan setiap hari, semuanya adalah hasil dari pengolahan dari alam.

Alam adalah peranan dan komponen paling penting supaya kita bisa hidup sejahtera di muka bumi ini. Sudah barang tentu, semestinya kita menjaga kelestarian dan kebersihan alam supaya bumi yang kita tinggali tidak tercemar oleh sampah yang kita buang.

Semua berawal dari diri kita sendiri, kita sebagai pendaki gunung harus menjaga kelestarian dan kebersihan gunung. Jangan sampai malah sebaliknya, kita merusak gunung dengan membuang sampah seenaknya. Hendaknya, kita tidak membuang sampah di atas gunung dan membawa turun semua sampahnya.

3. Membuang Puntung Rokok Semabarangan di Gunung.

Kenapa saya pisahkan poinnya antara puntung rokok dan sampah?, padahalkan puntung rokok adalah sampah juga. Sengaja saya pisahkan puntung rokok pada poin nomor 3 ini untuk menekankan bahwa puntung rokok tidak boleh dibuang sembarangan di atas gunung.

Banyak para pendaki gunung yang tidak membuang sampah di gunung, tapi masih membuang puntung rokok sembarangan. Serius sekali tentang puntung rokok ini, karena jika kita membuang puntung rokok sembarangan di gunung, bahaya yang ditimbulkan ada dua, yakni kerusakan terhadap ekosistem alam dan terjadinya kebakaran.

Maka dari itu, setelah kamu menikmati sebatang rokok dan segelas kopi di pagi hari dengan pemandangan indah di atas gunung, kamu harus mengamankan puntung rokoknya, pastikan puntung rokok benar-benar padam dan masukan dia ke kantong sampah.

4. Mencabut Bunga Edelweis.

Bunga Edelweis adalah bunga yang indah dan hanya tumbuh di dataran tinggi yang terkena sinar matahari penuh. Bunga Edelweis juga sangat akrab dengan para pendaki gunung, bunga ini menjadi pelepas lelah bahkan tujuan bagi sebagian para pendaki.

Namnu sayang, akibat perbuatan beberapa tangan-tangan jahil sebagian pendaki gunung, keberadaan bunga Edelweis dinyatakan sebagai tanaman langka. Bahkan, pada dekade terakhir, di gunung Bromo, bunga ini dinyatakan punah.

Saya akan mengutip sebuah kalimat yang merupakan salah satu prinsip pecinta alam, bunyinya sebagai berikut.

Jangan mengambil sesuatu kecuali foto atau gambar.

Berkaca pada prinsip tersebut, maka kita sebagai pendaki gunung tidak boleh mengambil tanaman atau apa pun yang ada di gunung. Apabila kita sudah mengabaikan prinsip pecinta alam tersebut, mencabut dan membawa pulang bunga edelweis, maka kita sudah melunturkan nilai-nilai dari makna pecinta alam. Mulai sekarang, berhentilah mencabut bunga Edelweis dan biarkan bunga ini tetap tumbuh dan menjadi hiasan gunung.

5. Buang Air Besar di Tempat dan Dengan Cara Sembarangan.

Saat melakukan pendakian, tidak jarang juga para pendaki merasa ingin buang hajat besar dan terpaksa buang air besar di tengah-tengah pendakian. Hal itu adalah perkara yang manusiawi, tidak ada yang berhak melarang kita buang air besar.

Namun, hal yang menyebabkan masalah adalah para pendaki yang buang air besar dengan cara yang salah. Ini adalah tiga kesalahan sebagian para pendaki ketika buang air besar di tengah-tengah pendakian.

1. Buang air besar di dekat sumber air.

2. Buang air besar di dekat jalur pendakian dan tidak mengubur kotorannya.

3. Buang air besar di sungai.

Apabila kamu buang air besar dengan 3 cara di atas, maka itu adalah sebuah kesalahan. Lantas, bagaimana cara buang air di tengah-tengah pendakian dengan cara yang benar?.

Begini, saat perut kamu terasa mules dan tidak tahan ingin buang air besar, sebelum kamu buang air besar, kamu harus menggali lubang terlebih dahulu, sehingga lubang tersebut bisa dijadikan tempat kamu membuang kotoran. Setelah selesai dan perut kamu terasa enakan, maka kuburlah lubang itu dengan tanah kembali. Cara ini diadopsi dari perilaku kucing saat buang air besar. Dengan cara ini, buang air tidak akan mengganggu orang lain.

6. Membuat Api Unggun Dengan Sekala Api yang Terlalu Besar.

Berbicara mengenai api unggun, sebetulnya api unggun termasuk masalah penting yang harus dibahas oleh seluruh komunitas Pecinta Alam dan komunitas Pendaki Gunung. Mengapa?.

Karena api unggun sudah banyak mengakibatkan kebakaran di beberapa hutan dan gunung, masalah penting, bahkan beberapa komunitas perintis pendaki gunung sudah melarang anggotanya untuk membuat api unggun saat melakukan sebuah pendakian. Namun masalah penting ini banyak para pendaki yang mengabaikannya.

Meskipun demikian, pengelola hutan dan gunung dari pemerintah tidak mudah mengeluarkan larangan untuk membuat api unggun kepada para pendaki, hal itu disebabkan manfa'at api unggun sangat besar sekali, yup, untuk menghangatkan tubuh dan menyelamatkan tubuh dari hipotermia.


Pada akhirnya, kita harus dewasa dalam masalah api unggun, kalaupun harus membuat api unggun, maka jangan terlalu besar.

7. Menjadikan Gunung Sebagai Tempat Asusila.

Sebetulnya tidak ada kata-kata untuk membahas dosa pendaki kepada alam yang satu ini, karena tidak terbayangkan, gunung yang oleh sebagian masyarakat Indonesia dianggap sebagai tempat sakral, malah dijadikan tempat asusila oleh sebagian para pendaki.

Percaya tidak percaya, sebagian para pendaki memang ada yang melakukan perbuatan asusila di atas gunung. Arogan dan tidak punya moral adalah dua kata yang pantas untuk orang-orang seperti ini. Berhentilah melakukan seks di gunung dan jangan mencoreng kesakralan gunung dengan perbuatan itu.


Baca juga: Apabila gunung bisa berbicara, mungkin dia akan mengatakan hal ini.

Sahabat pendaki, sepertinya pembahasan kita cukup sampai di sini. Setelah membacanya, semoga kita dijauhkan dari perbuatan-perbuatan yang telah disebutkan di atas. Jangan lupa untuk membagikan artikel ini, karena membagikan artikel ini termasuk upaya kita untuk saling mengingatkan kepada sesama pendaki gunung yang berada di seluruh Nusantara ini.

Semoga bermanfa'at dan salam lestari!.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "7 Kesalahan Pendaki Gunung Pada Alam, Hasil Survey, 46,7% Pendaki Masih Melakukannya"

Post a Comment