Kisah Meninggalnya Soe Hok Gie di Puncak Mahameru

sejarah soe hok gie dan pecinta alam indonesia

Soe Hok Gie, sebelum menceritakan kisah meninggalnya Soe Hok Gie di puncak Mahameru, ada baiknya kita mengetahui siapa sosok Soe Hok Gie dan apa peranan Soe Hok Gie dalam sejarah pencinta alam Indonesia.


Menurut saya, Soe Hok Gie mempunyai peranan penting dalam sejarah pencinta alam di Indonesia, sebab, dialah orang yang pertama kali menggunakan istilah 'Pencinta Alam.


Sebelum itu, di Indonesia, sebutan untuk orang-orang yang suka mendaki gunung dan menyusuri alam bebas adalah Aktifis lingkungan atau Penggiat alam bebas. Setelah Soe Hok membuat komunitas Mapala UI, Mahasiwa Pencinta Alam, maka istilah pencinta alam lebih familiar dibanding istilah aktifis lingkungan atau penggiat alam bebas.


Semasa hidupnya, dia dikenal sebagai seorang pemuda yang sangat mencintai Indonesia dengan caranya sendiri, yakni mengenal alam dan masyarakat Indonesia dari dekat.


Sekelumit Perjalanan Hidup Soe Hok Gie.


Pada tanggal 17 Desember 1942, Gie terlahir di Jakarta dari pasangan Salam Sutrawan dan Nie Ho An, keturunan suku Indonesia-Tionghoa adalah garis nasibnya. Dia menjadi adik paling kecil di antara empat saudaranya.


Masa Sekolah Gie.


Sejak duduk di bangku sekolah dasar, kecintaan Gie kepada sastra sudah tercium, hal itu dibuktikan dengan kenyataan, bahwa semenjak SD, Gie sudah membaca karya sastra serius, seperti karya Pramoedya Ananta Toer. Mungkin hal itu pengaruh dari ayahnya yang berlatar belakang seorang penulis dan novelis.


Lulus dari SD, Gie masuk sekolah menengah pertama, sekolah SMP itu bernama Strada dan berada di Gambir.


Menurut cerita dari sahabat-sahabatnya, di bangku SMP, Gie sudah mendapatkan dan membaca buku sastra yang sangat serius dan langka, yakni buku yang berjudul 'Cerita Dari Blora, karangan Pramoedya Ananta Toer.


Saat kelas dua, kenaikan ke kelas tiga, pihak sekolah menyatakan bahwa Soe Hok Gie tidak naik kelas, alasan sebenarnya adalah karena Gie selalu melawan gurunya sendiri dan angka-angka nilainya dikurangi, namun pihak sekolah beralasan karena prestasinya buruk sekali.


Akhirnya, Gie pindah sekolah, kebetulan ada sekolah yang mengizinkannya naik ke kelas tiga, yakni sekolah keristen di Jakarta. Waktu kelulusan, Gie dinyatakan lulus dengan nilai di atas rata-rata.


Masuk Jenjang Sekolah Menengah Atas.


Di jenjang SMA, ketertarikan Gie kepada sastra bahasa semakin mendalam, mulai tertarik akan sejarah Indonesia dan kesadaran politiknya mulai bangkit, sehingga Gie menulis beberapa karya tulis yang sangat kritis kepada pemerintahan Orde Lama. Lulus SMA dengan nilai yang sangat baik.


Kehidupan Gie di Bangku Kuliah.


Pada tahun 1960-an, Gie resmi menjadi mahasiswa Universitas Indonesia, UI. Pada saat itu, Gie dikenal sebagai mahasiswa yang aktif dalam berdemo dalam menantang kepemerintahan Presiden Sukarno dan PKI.


Kecintaan Kepada Alam Mulai Tumbuh di Hati Gie.


Pada tahun 1965, Gie dan teman-teman mahasiswa lainnya membentuk sebuah organisasi yang mereka sebut dengan nama Mapala UI, Mahasiswa Pencinta Alam, dengan mendaki gunung adalah kegiatan utamanya. Pendakian pertama Mapala adalah gunung Slamet, Soe Hok Gie menjadi pemimpin dalam pendakian gunung Slamet tersebut.

Meninggalnya Soe Hok Gie di Puncak Mahameru.


Pada hari jum'at, hari lebaran kedua, pada 12 Desember 1969. Gie dan teman-teman sudah berkumpul di Statsiun Kereta Api Gambir. Mereka bermaksud mendaki puncak Mahameru, kali ini adalah pendakian pertama bagi Mapala mendaki puncak tertinggi di pulau Jawa itu.


Kisah selanjutnya, tentang meninggalnya Soe Hok di puncak Mahameru, saya akan mengutip dari buku yang berjudul Soe Hok Gie, Sekali Lagi: Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya, karanga Rudy Badil, seorang sahabat Soe Hok Gie. Bunyinya seperti ini,


Kereta api dari Jakarta berangkat pukul 07:00. Hok Gie yang sikapnya gesit, di stasiun itu ngobrol cukup lama dengan Rudy Hutapea, rekan seperjuangannya di Radio UI.


Sebelum berangkat, Gie menitip pesan ke Rudy Hutapea untuk mengikuti perkembangan politik di gedung Dewan Perwakilan Rakyat di Senayan. Saat rombongan masuk gerbong dam melambaikan tangan sebagai lambaian perpisahan ke pengantar, yakni Rudy Hutapea, Raja, dan Utun, Gie berseloroh ke Rudy yang sempat didengar oleh Wiwiek.


Gie Berteriak, 'titip janda-janda gue di Jakarta ya'. Itu khas Hok Gie yang sok badung, pakai bilang janda segala, padahal dia gak beranilah macam-macam ke cewek-cewek itu." ujar Badil.


Badil mengisahkan, kereta melaju terus ke Timur, tanpa menghidangkan makan siang dan malam atau kudapan ringan. Menjelang tengah malam, seusai makan nasi soto sulung di stasiun, rombongan berangkat dengan kendaraan sewaan ke desa terdekat di kaki Gunung Semeru. Menurut buku Belanda, rombongan harus ke Kecamatan Tumpang menjelang Kota Malang, lalu mendatangi Desa Kunci, desa terakhir yang dilalui jalan mobil.


"Berapa harga sewa mobil carteran itu, itu urusan Hok Gie yang pegang duit karena dia yang paling pandai cari uang jalan." Lanjut Badil dalam ceritanya.


Badil mengisahkan, rombongan singgah di rumah pimpinan Desa Gubuk Klakah, Pak Binanjar. Di sini mulai lagi diskusi soal rute, tafsir jalan menuju Semeru sesuai tulisan buku Belanda. Herman ngotot harus lewat Kali Amprong.


Padahal, Pak Binanjar menyebutkan kalau penduduk lokal memilih ke puncak Semeru lewat Desa Ranupane karena lebih landai dan tidak menanjak. Pun tidak juga menyebarangi Kali Amprong yang suka banjir dadakan. Akhirnya, sebagian tim meninjau Kali Amprong. Setelah kembali, ditetapkanlah bahwa rute pendakian lewat Kali Amprong.


Desa Gubuk Klakah perlahan menghilang, tertelan kabut yang nantinya menjadi guyuran air berkepanjangan. Rombongan naik ke bukit dan menanjak ke kaki pegunungan Semeru. Tahu-tahu, rombongan harus turun dan turun, menuju lembah besar serta melihat pemandangan indah adanya, danau besar dan lebar.


Perjalanan dilanjutkan di seputaran hutan koloni pepohonan pinus, mencari celah menuju Arcopodo di perbatasan hutan dan tanah berbatuan menjelang puncak Mahameru.


Hok Gie, Herman, dan Tides, langsung menafsir info teks buku Belanda. Menurut mereka, di Cemoro Kandang itu, tim akan melewati jalan kuda bikinan Belanda menuju desa kecil di kawasan Lumajang.


"Seingat saya, waktu itu tidak ada yang panik atau protes, juga tidak ada yang merasa tersesat." Sambung Badil.


Perkemahan malam itu di tepian danau gunung, Ranu Kumbolo, di bawah tetesan gerimis dan kabut tebal. Romongan membentuk kelompok kecil. Hok Gie menjadi sentra perhatian dengan segala kisahnya, soal lagu dan musik yang menurutnya universal.


"Malah Hok Gie, dengan suara fales-nya memancing-mancing dengan lagu patriotisme kaum pendemo di AS, We're fighting for our freedom... we shall not be moved." Tutur Badil.


Menurut Badil, zaman itu zaman susah buat pendaki gunung. Setelah melalui hutan lumpur, tim istirahat. Tiga pentolan, yakni Herman, Tides, Hok Gie, berjalan berbarengan mencari rintisan jalan ke arah puncak Semeru.


Hok Gie menuturkan mereka sudah menemukan lorong di tengah semak belukar yang ternyata merupakan pintu masuk rintisan hutan ke arah atas. Mereka menemukan jalan masuk ke Arcopodo, sebagai salah satu lokasi untuk menuju puncak Mahameru.


Selanjutnya Herman memutuskan bahwa malam ini tim berkemah lagi di Ranu Kumbolo, mengecek perbekalan. Esok paginya berangkat, jika tidak tersesat, menjelang sore akan tiba di puncak.


"Malam hari yang sempat cerah, kami jadikan ajang obrolan dan bersenda gurau dengan Hok Gie. Bayangkan, Soe Hok Gie dengan tegas bilang, "Gua akan berulang tahun tanggal 17 Desember, artinya hari Rabu yang lusa itu, besok kan Selasa tanggal 16 Desember. Gimana ya, seharusnya gua mau berulang tahun di tanah tertinggi di Pulau Jawa." Ungkap Badil menirukan gaya ucapan Gie.


Pagi itu, 16 Desember 1969, langit masih setengah gelap, rombongan siap berangkat. Dalam perjalanan, cuaca buruk yang penuh hujan dan gerimis bercampur kabut. Hok Gie lalu bergegas turun, mungkin berbarengan dengan Tides. Sambil berteriak dan turun, Tides menyuruh untuk segera turun karena cuaca tidak bagus. Bau uap sangata menyengat membikin sesak kantong udara di paru-paru.


Badil melanjutkan, entah berapa puluh menit berlalu, cuaca belum betul-betul gelap. Lamat-lamat terdengar suara geruduk guliran batu pasir. Terlihat Fredy dan Herman meluncur turun, tanpa Hok Gie dan Idhan.


Herman datang duluan. Sambil mengempaskan diri ke tenda darurat, dia langsung melapor ke Tides. "Hok Gie dan Idhan meninggal, mereka tiba-tiba kejang dan tidak bergerak." Kata Herman dalam keadaan panik. Tutup Badil.


Selanjutnya adalah hasil wawancara detik.com kepada Herman Lantang, ketua pendakian Semeru waktu itu. Saat wawancara, usia Herman waktu itu sudah 74 tahun, jadi daya ingatnya sudah menurun, sehingga tidak bisa bercerita panjang lebar tentang kenangan terakhirnya bersama Soe Hok Gie. Beliau bercerita sedikit, bunyinya seperti ini,


"Musibah Semeru terjadi lebih dari 40 tahun yang lalu sejak saya diinterogasi polisi Malang. Daya ingatku mulai memudar. Sebaiknya membaca buku editor Rudy Badil, (itu) hasil kami semua mengingat-ingat kembali dengan memeras otak.”


Demikian adalah sekilas cerita meninggalnya Soe Hok Gie di puncak Mahameru yang saya ambil dari cerita Rudy Badil dalam bukunya yang berjudul 'Soe Hok Gie, Sekali Lagi: Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya, dan hasil wawancara detik.com kepada Herman Lantang.

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Kisah Meninggalnya Soe Hok Gie di Puncak Mahameru"

  1. Sangat sangat terkenang dihati kami para "Pecinta Alam" muantaps bro...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Soe Hok Gie, sebuah catatan sejarah yang ditulis dengan tinta berharga.

      Delete