76 Kata-Kata Soe Hok Gie

76 kata-kata soe hok gie

Siapa Soe Hok Gie?. Dalam artikel saya yang berjudul kisah meninggalnya Soe Hok Gie di puncak Mahameru diceritakan bahwa Soe Hok Gie adalah seorang pemuda keturunan Cina yang sangat mencintai Indonesia. Peranannya dalam dunia pendakian pun sangat berpengaruh, bahwasannya dialah yang mencetuskan nama "Pecinta Alam"

Pada artikel ini pun kita masih membahas Soe Hok Gie, tapi dari sisi yang berbeda, yakni saya akan membagikan 76 kata-kata Soe Hok Gie yang terbagi menjadi dua bagian. Tentang cinta dan tentang naik gunung. Daripada saya disebut penulis yang suka basa-basi, lebih baik kita mulai saja di bawah ini.



Kata-Kata Cinta Soe Hok Gie
Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: 'dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan'. Tanpa itu semua maka kita tidak lebih dari benda. Berbahagialah orang yang masih mempunyai rasa cinta, yang belum sampai kehilangan benda yang paling bernilai itu. Kalau kita telah kehilangan itu maka absurdlah hidup kita.


Kata-Kata Soe Hok Gie Tentang Naik Gunung
Dunia itu seluas langkah kaki. Jelajahilah dan jangan pernah takut melangkah. Hanya dengan itu kita bisa mengerti kehidupan dan menyatu dengannya.
Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung
Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin.


Kata-Kata Bijak Soe Hok Gie
Atau… dia kompromi dengan situasi yang baru. Lupakan idealisme dan ikut arus. Bergabunglah dengan grup yang kuat (partai, ormas, ABRI, dan lain-lainnya) dan belajarlah teknik memfitnah dan menjilat. Karir hidup akan cepat menanjak. Atau kalau mau lebih aman kerjalah di sebuah perusahaan yang bisa memberikan sebuah rumah kecil, sebuah mobil atau jaminan-jaminan lain dan belajarlah patuh dengan atasan. Kemudian carilah istri yang manis. Kehidupan selesai
Baru-baru ini seorang OKD (Organisasi Keamanan Desa) memukul tukang becak. Kita kasihan pada OKD yang penakut itu. Mereka, untuk menutupi kekecilan-nya (cuma OKD) berlagak seperti jendral. Sebenarnya mereka adalah seorang yang penakut. Orang yang berani karena bersenjata adalah pengecut.
Tetapi kenang-kenangan demonstrasi akan tetap hidup. Dia adalah batu tapal daripada perjuangan mahasiswa Indonesia, batu tapal dalam revolusi Indonesia dan batu tapal dalam sejarah Indonesia. Karena yang dibelanya adalah keadilan dan kejujuran.
Ketika Hitler mulai membuas maka kelompok Inge School berkata tidak. Mereka (pemuda-pemuda Jerman ini) punya keberanian untuk berkata "tidak". Mereka, walaupun masih muda, telah berani menentang pemimpin-pemimpin gang-gang bajingan, rezim Nazi yang semua identik. Bahwa mereka mati, bagiku bukan soal. Mereka telah memenuhi panggilan seorang pemikir. Tidak ada indahnya (dalam arti romantik) penghukuman mereka, tetapi apa yang lebih puitis selain bicara tentang kebenaran.
Makhluk kecil kembalilah. Dari tiada ke tiada. Berbahagialah dalam ketiadaanmu.
Bidang seorang sarjana adalah berfikir dan mencipta yang baru, mereka harus bisa bebas dari segala arus masyarakat yang kacau. Tapi mereka tidak bisa terlepas dari fungsi sosialnya. Yakni bertindak demi tanggung jawab sosialnya, apabila keadaan telah mendesak. Kaum intelejensia yang terus berdiam di dalam keadaan yang mendesak telah melunturkan semua kemanusiaan
Saya tak tahu mengapa, Saya merasa agak melankolik malam ini. Saya melihat lampu-lampu kerucut dan arus lalu lintas jakarta dengan warna-warna baru. Seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan. Semuanya terasa mesra tapi kosong. Seolah-olah saya merasa diri saya yang lepas dan bayangan-bayangan yang ada menjadi puitis sekali di jalan-jalan. Perasaan sayang yang amat kuat menguasai saya. Saya ingin memberikan sesuatu rasa cinta pada manusia, pada anjing-anjing di jalanan, pada semua-muanya
Realitas – realitas baru inilah yang menghadapi pemuda-pemuda Indonesia yang penuh dengan idealisme. Dia hanya punya dua pilihan. Yang pertama, tetap bertahan dengan cita-cita idealisme. Menjadi manusia-manusia yang non-kompromistis. Orang-orang dengan aneh dan kasihan akan melihat mereka sambil geleng-geleng kepala. “Dia pandai dan jujur, tetapi sayangnya kakinya tidak menginjak tanah
Disana, di Istana sana, Sang Paduka Yang Mulia Presiden tengah bersenda gurau dengan isteri-isterinya. Dua ratus meter dari Istana, aku bertemu si miskin yang tengah makan kulit mangga. Aku besertamu orang-orang malang
Akupun tak yakin (pasti malah) tentang ke-tak-ada-annya nasib,Aku berpendapat bahwa kita adalah pion dari diri kita sendiri sebagai keseluruhan. Kita adalah arsitek nasib kita, tapi tak pernah dapat menolaknya. Kita asing, ya kita asing dari ciptaan kita sendiri
Jepang adalah tanah dan Barat adalah benih. Benih itu ditanam dan walaupun yang tumbuh pohon barat, Tapi pohon tadi telah mempunyai sifat2 yang khas jepang. Apakah Indonesia sekuat Jepang? Setanpun tak tahu
Tapi sekarang aku berpikir, sampai di mana seseorang masih tetap wajar, walau ia sendiri tidak mendapatkan apa-apa. Seseorang mau berkorban buat sesuatu, katakanlah, ide-ide, agama, politik atau pacarnya. Tapi dapatkah ia berkorban buat tidak apa-apa?
Bagi saya KEBENARAN biarpun bagaimana sakitnya lebih baik daripada kemunafikan. Dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita
Potonglah kaki tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2 x 3 meter dan berilah kebebasan padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia
Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: kebenaran
Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi “manusia-manusia yang biasa”. Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia
Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda
Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun
Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir?
Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.
Manusia dibentuk oleh ambisi mengenai masa depan, dibentuk oleh kenyataan-kenyataan kini, dan pengalaman-pengalaman masa lampau. Seorang pun tak dapat membebaskan dirinya dari masa lampau. Pengalaman-pengalaman pribadi memberi warna pada pandangan dan sikap hidup seorang untuk seterusnya.
Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah.
Kemerdekaan merupakan sebuah mimpi yang menjadi kenyataan, tetapi juga merupakan dsebuah gedung yang kosong. Menjadi tugas pendukung-pendukungnya untuk mengisi kemerdekaan.
Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.
Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.
Makin redup idealisme dan heroisme pemuda, makin banyak korupsi.
Dan seorang pahlawan adalah seorang yang mengundurkan diri untuk dilupakan seperti kita melupakan yang mati untuk revolusi.
Barang Siapa mengibarkan bendera "Revolusioner", akan memperoleh pasaran di kalangan kaum radikal, kaum yang menunggu dengan tidak sabar perubahan-perubahan yang mereka harapkan. Kaum "Radikal" ini berasal dari segala golongan.
Dunia ini adalah dunia yang aneh.Dunia yang hijau tapi lucu.Dunia yang kotor tapi indah. Mungkin karena itulah saya telah jatuh cinta dengan kehidupan.
Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah.
Saya kira saya tak bisa lagi menangis karena sedih. Hanya kemarahan yang membuat saya keluar air mata.
Kebenaran cuma ada di langit dan dunia hanyalah palsu, palsu.
Hanya ada dua pilihan: menjadi apatis atau mengikuti arus. Tapi, aku memilih untuk jadi manusia merdeka.
Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau.


Kumpulan Puisi Soe Hok Gie

Sebuah Tanya

Akhirnya semua akan tibapada suatu hari yang biasaPada suatu ketika yang telah lama kita ketahuiApakah kau masih selembut dahuluMemintaku minum susu dan tidur yang lelap?Sambil membenarkan letak leher kemejaku 
Apakah kau masih membelaiku semesra dahuluKetika kudekapKau dekaplah lebih mesra, Lebih dekat
Apakah kau masih akan berkataKudengar derap jantungmuKita begitu berbeda dalam semuaKecuali dalam cinta
Kulihat semuanya menjadi muramWajah-wajah yang tidak kita kenal berbicaraDalam bahasa yang kita tidak mengerti
Manisku, aku akan jalan terusMembawa kenangan-kenangan dan harapan-harapanBersama hidup yang begitu biru 
Cahaya bulan menusukkuDengan ribuan pertanyaanYang takkan pernah kutahu dimana jawaban itu
Bagai letusan berapiMembangunkanku dari mimpiSudah waktunya berdiriMencari jawaban kegelisahan hati 
(Djakarta)

From Soe Hok Gie With Love
Hari ini aku lihat kembaliwajah-wajah halus yang kerasyang berbicara tentang kemerdekaandan demokrasidan bercita-citamenggulingkan tiran
aku mengenali merekayang tanpa tentaramau berperang melawan diktatordan yang tanpa uangmau memberantas korupsi
kawan-kawankuberikan padamu cintakudan maukah kau berjabat tanganselalu dalam hidup ini??
(Soe Hok Gie, Sinar Harapan, 18 Agustus 1973)

Cinta
Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk berziarah ke MekkahAda orang yang menghabiskan waktunya untuk berjudi di MirazaTapi aku ingin habiskan waktuku disisimu, sayangkuBicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu,Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di DanangAda bayi-bayi yang mati lapar di BiafraTapi aku ingin mati disisimu, maniskuSetelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanyaTentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tau
Mari sini, sayangkuKalian yang pernah mesra, yang pernah baik, dan simpati padakuTegaklah ke langit luas atau awan yang mendungKita tak pernah menanam apa-apaKita tak pernah kehilangan apa-apa
( Selasa, 11 November 1969 )

Mimpi
Saya mimpi tentang sebuah duniaDimana ulama, buruh, dan pemuda,Bangkit dan berkata, “Stop semua kemunafikan! Semua pembunuhan atas nama apapun!”
Dan para politisi di PBB sibuk mengatur pengangkutan gandum, beras, dan susuBuat anak-anak yang lapar di tiga benuaDan lupa akan diplomasi
Tak ada lagi rasa benci pada siapapun, agama apapun, ras dan bangsa apapunDan melupakan perang dan kebencianDan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik
Tuhan, saya mimpi tentang dunia tadi Yang tak pernah akan datang
( Salem, Selasa, 29 Oktober 1968 )

Kepada Pejuang-Pejuang Lama
Biarlah mereka yang ingin dapat mobil, mendapatnya.Biarlah mereka yang ingin dapat rumah, mengambilnya.Dan datanglah kau manusia-manusiaYang dahulu menolak, karena takut ataupun ragu.
Dan kita, para pejuang lamaYang telah membawa kapal ini keluar dari badaiYang berani menempuh gelombang (padahal pelaut-pelaut lain takut)(kau tentu masih ingat suara-suara dibelakang…”mereka gila”)
Hai, kawan-kawan pejuang lamaAngkat beban-beban tua, sandal-sandal kita, sepeda-sepeda kitaBuku-buku kita ataupun sisa-sisa makanan kitaDan tinggalkan kenangan-kenangan dan kejujuran kitaMungkin kita ragu sebentar (ya, kita yang dahulu membinaKapal tua iniDi tengah gelombang, ya kita betah dan cinta padanya)Tempat kita, petualang-petualang masa depan akanPemberontak-pemberontak rakyat
Di sana…Di tengah rakyat, membina kapal-kapal baru untuk tempuhGelombang baru.
Ayo, mari kita tinggalkan kapal iniBiarlah mereka yang ingin pangkat menjabatnyaBiarlah mereka yang ingin mobil mendapatnyaBiarlah mereka yang ingin rumah mengambilnya.
Ayo,,Laut masih luas, dan bagi pemberontak-pemberontakTak ada tempat di kapal ini

Tentang Kemerdekaan

Kita semua adalah orang yang berjalan dalam barisanYang tak pernah berakhir,Kebetulan kau baris di muka dan aku di tengahDan adik-adikku di belakang
Tapi satu tugas kita semua,Menanamkan benih-benih kejantanan yang telah kau rintis….Kita semua adalah alat dari arus sejarah yang besarKita adalah alat dari derap kemajuan samua;Dan dalam berjuang kemerdekaan begitu mesra berdegupSeperti juga perjalanan di sisi penjara
Kemerdekaan bukanlah soal orang-orang yang iseng dan pembosanKemerdekaan adalah keberanian untuk berjuangDalam derapnya, dalam desasnya, dalam raungnya kitaAdalah manusia merdekaDalam matinya kita smua adalahManusia terbebas.

Mandalawangi-Pangrango

Sendja ini, ketika matahari turunKe dalam djurang-djurang muAku datang kembaliKe dalam ribaanmu, di dalam sepimuDan dalam dinginnya.
Walaupun setiap orang berbitjaraTentang manfaat dan gunaAku bicara terima kau dalam keberadaanmuSeperti kau terima daku.
Aku tjinta padamu, Pangrango jang dingin dan sepiSungaimu adalah njanjian keabadian tentang tiadaHutanmu adalah misteri segalaTjintamu dan tjintaku adalah kebisuan semesta.
Malam itu ketika dingin dan kebisuanMenjelimuti mandalawangiKau datang kembaliDan bitjara padaku tentang kehampaan semua.
“hidup adalah soal keberanian,Menghadapi jang tanda tanjaTanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawarTerimalah, dan hadapilah.
Dan antara ransel-ransel kosongDan api unggun jang membaraAku terima itu semuaMelampaui batas-batas hutanmu,Melampaui batas-batas djurangmuAku tjinta padamu PangrangoKarena aku tjinta pada keberanian hidup

Hidup

Terasa pendeknya hidup memandang sejarahTapi terasa panjangnya karena deritaMaut, tempat penghentian terakhirNikmat datangnya dan selalu diberi salam
“Merasa seneng menjadi aktivisKami adalah aktivis berpangkat kopralIni dibawah asuhan aktivis reformasi lanjutkan,Berkelanjutan kok lanjutkanIni saya mengatur saudara-saudara aktivis yang sudahMuak dan bosan dengan ideology dan kemiskinannyaSemua aktivis melacur, tinggal aku aktivis yang belum di sunatIni mana kaptennya aktivis kok belum datang, lupa atau gimana?”
“Akhir-akhir ini saya selalu berpikir,Apa gunanya semua yang saya lakukan ini.Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang…Makin lama semakin banyak musuh saya danMakin sedikit orang yang mengerti saya.Kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan.Jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan…Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian.”
(Soe Hok Gie)


Kata Mereka Tentang Soe Hok Gie
Di tengan pertentangan politik, agama, kepentingan politik, ia (Soe Hok Gie) berdiri tegak di atas prinsip perikemanusiaan dan keadilan serta secara jujur dan pemberani menyampaikan kritik-kritiknya atas dasar prinsip-prinsip itu demi kemajuan bangsa. -Harsjana W. Bachtiar, Kompas, 26 September 1969
Dia (Soe Hok Gie) adalah seorang jujur dan pemberani. Dan meng-erikan, karena ia maju lurus dengan prinsip-prinsipnya tanpa kenal ampun. Maka seringkali ia bentrok karena dianggap tidak taktis. -Nugroho Notosusanto, Kompas, 26 September 1969
Meskipun hanya bertemu lewat karya-karyanya, saya seperti mengenal betul bagaimana idealisnya, bagaimana mimpinya, bagaimana keberaniannya. Masih sangat terasa kuat, tentang sastra dan alam yang dicintainya. Saya sangat setuju bahwa hidup adalah tentang keberanian melawan tanda tanya dan berjuang bukan untuk apa-apa, semuanya berada di bawah keadilan dan kemanusiaan. -Penulis, Bandung, 21 Februari 2017

Sumber: Buku Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran dan Film Soe Hok Gie

buku catatan seoang demonstran

Baca juga: 54 kata-kata mutiara pendaki gunung sejati

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "76 Kata-Kata Soe Hok Gie"

Post a Comment