Menurut 53 Pendaki Gunung Ini, Ada 19 Hal yang Tidak Disukai Saat Mendaki Gunung

pengalaman pendaki gunung

Kemarin, saya sengaja mengadakan jajal pendapat dan menyodorkan sebuah pertanyaan di sebuah grup Facebook Pendaki Indonesia. Pertanyaan yang saya postingkan adalah tentang hal apa saja yang tidak kamu sukai saat mendaki gunung?. Jauh dari dugaan, banyak sekali pendaki yang memberikan pendapat dan semua pendapat-pendapat itu sudah saya tuangkan ke dalam,

Menurut 53 pendaki gunung ini, ada 19 hal yang bisa mengurangi kadar keasikan saat mendaki gunung, di antaranya adalah.


1. Saat Gunung Rame



rame di gunung


Terjebak dalam keramaian di atas gunung. -Rizki Nopilani
Terlalu ramai, sampai harus ngantri. -Uki El Muhid
Yen weekend dadi pasar. -Anggara W. Prasetya
Yang nanjak rame, sampah jadi ikutan rame. -Edo Moreno

Hal ini biasanya terjadi saat hari libur panjang tiba, apalagi di gunung-gunung populer, rentan sekali terjadi kepadatan di atas gunung. Memang sedikit menyebalkan, harus ngantri di track, puncak menjadi sempit dan harus keliling dulu mencari tanah kosong untuk mendirikan tenda. Sepertinya harus ada pembahasan khusus yang mendalam tentang gunung yang menjadi ramai, termasuk tentang pentingnya saling berbagi, saling mengingatkan dan saling menghormati di saat gunung sangat rame.


Namun, apabila kita melihatnya dari sisi lain, ramainya gunung memiliki arti bahwa jumlah pendaki di Indonesia semakin banyak dan keluarga kita pun otomatis ikut bertambah banyak.


2. Kegaduhan di Malam Hari

Paling sebel kalo lagi enak-enaknya tidur (Aku paling susah tidur di tenda), eh tiba-tiba ada pendaki lain yang mau summit atau mau ngapain gitu, teriak-teriak "Selamat pagi" atau apalah, kaya gitu ganggu banget jadi kebangun dan gak bisa tidur lagi. -Anistika Rachmawati
Ketemu sama orang-orang alay yang naik gunung, setel musik kenceng-kenceng dan suka teriak-teriak gak jelas. Caecilia Risma Yuniar
Ramai banget, setel musik kenceng-kenceng, jadi gak bisa tidur. -Yoe Nie
Berisik di tenda sebelah. -Anto Juan

Entah siapa yang mulai dan entah sejak kapan, seakan menjadi ritual wajib saat bermalam di atas gunung, setiap pendaki berteriak-teriak bersahutan tidak jelas, bahkan omongan-omongan kasar nan kotor pun tidak luput terdengar, termasuk suara nyanyian rombeng dari sound aktif yang disetel sangat kencang tidak mau kalah menyiksa telinga pendaki lain yang hendak memejamkan mata.


Padahal, makanan yang bergizi dan tidur yang nyenyak adalah 2 kebutuhan wajib bagi para petualang. Tidur di gunung itu harus nyenyak, karena pada malam hari, saat kita tertidur pulas, tubuh kita mengalami pembetulan saraf-saraf yang rusak atau tegang setelah seharian digunakan untuk bertualang menyusuri track yang menanjak.


Mari kita hentikan ritual ini, dimulai dari diri sendiri, sebelum berteriak, pikirkan baik-baik, bagaimana jika anda berada di posisi orang yang hendak tidur, mengistirahatkan tubuh setelah seharian kelelahan dihajar track-track sadis dalam perjalanan.


3. Ketika Melihat Sampah Berserakan di Atas Gunung



botol minuman


Ketika kita memunguti sampah di sekitar dan tidak ada orang yang tergerak untuk melakukan hal yang serupa. Dulu, dengan membawa turun sampah sendiri saja sudah cukup untuk menjaga kebersihan di gunung, sekarang kita juga harus bawa turun sampah dari puluhan rombongan ABG labil yang cuma pengen selfie di puncak sambil gendong cerrier. Gimana kalau harga tiket dimahalkan?, agar mereka yang bener niat yang akan berangkat ke puncak. Misal 100 ribu per hari per orang. Paling tidak, ABG labil akan susah menjangkau harga itu, kalaupun ada yang sanggup, itu pun tidak banyak. -Bima Bintang Fajar
Bawa sampah gak mau, saat summit, poto selfie mulu kemudian diunggah di sosmed dengan caption (Pecinta alam dll). -Jerry Lewis Gobel
Kalau menurut saya, tidak ada yang tidak saya sukai saat melakukan pendakian, kecuali yang masih buang sampah sembarangan di gunung atau di alam bebas, itu yang tidak saya sukai. -Semak Belukar
Melihat pendaki yang tujuan mendakinya cuma untuk berburu foto-foto nge-hits tanpa peduli dampak sampah yang mereke tinggal di gunung dan tanpa rasa bersalah sedikit pun. -Dicky Serenade
1. Buang sampah sembarangan 2. Buang air kecil di botol dan botolnya gak dibawa turun 3. Cantelin sempak di ranting-ranting jalur, kadang-kadang ada, bikin risih. -Handy Setiawan
Melihat sampah yang diselipkan di antara pepohonan. -Fauzi Backand
Ketika melihat pendaki yang lagi buang sampah sembarangan. -Diecka Kamtis Familiy
Maaf, lihat botol air mineral yang berisi air kecil. -Tapak Javanica
Melihat tisu greget di perjalanan, mantap soul gan, mau dipungut tapi tahu sendirilah tisu itu bekas apa. -Reza Maulana

Sampah di atas gunung adalah masalah yang berkelanjutan dan sangat serius, mengapa tidak?, dalam artikel saya yang berjudul 7 kesalahan pendaki gunung kepada alam, disebutkan bagaimana dampak sampah di atas gunung kepada ekosistem alam, kehidupan anak-cucu kita kelak dan keberlangsungan hidup manusia apabila alam mulai rusak sebab ekosistem alam yang dirusak oleh tumpukan sampah di atas gunung.


Mungkin para pembaca yang bertipe kritikal akan bertanya, apa solusinya?, semua bermula dari diri kita sendiri, kita sebagai pendaki gunung, seharusnya menjaga kebersihan di atas gunung, bukan malah sebaliknya. So' setiap kita hendak membuang sampah sembarangan, coba dipikir lagi berulang-ulang.


4. Seharusnya Kegiatan Bertenda Ria Itu Mengasikan, Eh Tiba-Tiba,,,,,

Ada yang kentut saat tenda tertutup rapat hehehe sedooot. -Ipand Ridho
Ketika hujan gede, tenda bocor sleeping bag basah dan jaket jibrug. -Rizky M
Tenda kebawa, framenya kaga. -Joe Kribo Hutama

Dalam pendakian, kegiatan yang paling asik adalah sesaat setelah tenda berdiri sempurna, kamu bisa main kartu, bercanda dengan teman, main tebak-tebakan atau tidur pulas. Namun gimana jadinya jika ada teman yang kentut di dalam tenda, tendanya bocor atau framnya gak kebawa?.


5. Menginjak Ranjau

Saat menginjak ranjau. -April Kurniawan
Ranjau, sampah dan orang pacaran. -Arlina Jindra Kinasih
Kalau ada yang boker di jalur, itu yang paling bikin empet. Hahaha -Hadi Purnomo

Bisa dibayangkan, bagaimana perasaan kamu saat mengetahui bahwa sepatu gunungmu salah memilih tempat mendarat dan menginjak ranjau alias kotoran manusia?. Pastinya hal itu bisa merubah tawa menjadi murung dan merubah bahagia menjadi sebuah kesedihan.


6. Jalur Terhalang Oleh Tali Prusik

Saat jalur pendakian dihadang oleh tali prusik buat mendirikan tenda atau flyshet. -Bayu Ale Mondang

Siapa yang pernah ngalamin juga?, saat berjalan di malam hari dengan keadaan alam yang semakin gelap, eh tiba-tiba kaki kita dihadang oleh tali prusik tenda orang lain. Pengen negur gak enak atau pengen marah-marah berasa segan. Lagian kalau pasang tenda, tali prusiknya dikondisikan dong!.


7. Ketika Datang Keinginan BAB yang Tak Tertahankan

Pendaki yang ngomongnya tinggi banget, pas ditegur diem aja dan BAB di tengah badai, itu yang paling greget di antara ke-gregetan yang lainnya. -Dede Lhotse
Pengen buang air saat hujan. -Redni Astuty
Mules tengah malem dan hujan badai. -Rifqi Marley

Salah satu nasib apes yang paling apes di antara keapesan-keapesan yang lainnya adalah ketika datang keinginan BAB yang tak tertahankan di atas gunung di tengah malam dalam keadaan hujan badai dan angin sedang bertiup kencang. Kelar hidup lo!


8. Ditinggal Rombongan

Ketika seseorang meninggalkan rombongan dalam pendakian karena egois dan keangkuhan, padahal dia lebih senior dari kita. Hal itu pernah saya alami saat pertama mendaki gunung. -Agus Kidrock Semplorock

Ternyata, memilih teman pendakian adalah salah satu hal paling penting dalam mendaki gunung. Jangan sampai memilih teman yang egois dan hanya mementingkan dirinya saja hingga sampai tega meninggalkanmu di tengah-tengah pendakian.


9. Saat Motor Masuk Dalam Jalur Pendakian

Mobil ato motor masuk jalur pendakian. Jalur jadi kaya tol. -HQ Tok
Ketika kita jauh-jauh berjalan sampai engos-engosan dan ternyata ada sepeda motor lewat. -Dany Pratama

Bagi kebanyakan orang, salah satu tujuan mendaki gunung adalah mencari ketenangan dan menjauh dari hingar bingar kota yang riuh. Namun, apa yang terjadi saat sepeda motor pun ikut meramaikan jalur pendakian?, tidak ada ketenangan, sama saja dengan di kota, berisik dengan suara knalpot. Lebih dari itu, jalur untuk para pendaki pun dibuat rusak oleh orang-orang yang mengaku sama-sama menyalurkan hobi itu. Egois sekali.


10. Ketika Sesi Foto

Nggak ada yang ngajakin foto bareng...wkwkwk. -Sherlock
Dimintai tolong suruh motoin pasangan, ya harus gimana lagi wong dia minta tolong, ya aku tolongin. -Jko Febrianto

Nyatanya, sesi foto yang sangat ditunggu bisa berubah menjadi hal yang menjenuhkan, seperti hal-hal yang diungkapkan oleh ke-2 pendaki di atas. Apa kita, para coker (Cowo keren), harus berubah menjadi pendaki cantik supaya sesi foto selalu mengasikan?.


11. Saat Masak

Masak-masak, lama matengnya, pas bikin ager langsung jadi. -Goezz Yunus Woods
Masaknya berjam-jam, habisnya 5 menit. -Pinta Budaya

Masak di atas gunung memang menjadi dilema yang berkepanjangan, pintar dalam memilih menu makanan adalah solusi terbaik. Oleh sebab itu, dalam blog ini ada artikel yang berjudul 9 makanan praktis dan bergizi di atas gunung.


12. Melihat Pendaki Lain yang Tidak Mengindahkan Aturan Tuhan

Cintailah pencipta alam sebelum mencintai alam, pada intinya saya tidak suka melihat kaum beragama yang tidak mencerminkan kaum beragama, seperti contoh, buang sampah sembarangan (Padahal kebersihan adalah sebagian dari iman), berzina di dalam tenda dan bertutur kata tanpa aturan. Hal itu yang selama ini saya amati. -Andy Fitri Al Fareza

Aneh, padahal mereka mengatakan bahwa salah satu tujuan mendaki adalah mendekatkan diri kepada zat yang menciptakan alam, tapi masih ada aja orang-orang yang melakukan hal-hal yang jelas-jelas dilarang tuhan, seperti buang sampah sembarang, berzina, berkata kotor dan meninggalkan shalat. Marilah menjadi pendaki yang agamis, pendaki yang mengindahkan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.


13. Melihat Maraknya Vandalisme di Atas Gunung

Sampah dan curat-coret, stiker bikin bala (Udah itu saja yang saya tidak sukai, selebihnya saya suka). -Tanma Efendi Arika
Teman yang rewel, bikin pendakian tidak nyaman, coretan-coretan yang merusak pemandangan. -Kang Ipul
Sampah, Boker sembarangan dan Vandalisme. -Pujo Rahmanto

Terlebih dahulu, mari kita bahas apa itu vandalisme?. Vandalisme kurang-lebih adalah sebuah sikap kebiasaan merusak atau menistakan sesuatu yang indah dan terpuji. Dalam kasus di sini, merusak atau mengurangi keindahan alam adalah termasuk dalam kategori vandalisme, seperti curat-coret di batu, menguliti pepohonan dan mengotori alam dengan sampah.


Vandalisme adalah kasus serius, mari kita bayangkan betapa indahnya alam tanpa vandalisme. Apabila kamu termasuk orang yang memiliki kebiasaan buruk ini, segera hentikan, supaya alam yang kita cintai tetap terjaga keindahannya.


14. Gagal Summit

Gak munafiklah gua gak suka cape, bawaan berat, gagal summit, sampah dimana-mana, pemula yang malesan dan tidak memperdulikan lingkungan sekitar. Tapi kalau udah suka ya tetep aja nagih dan mau lagi, sensasinya tak tergantikan, selalu beda walau di gunung yang sama. -Bayu Biarlah

Gagal muncak memang bikin kecewa, tapi, pada beberapa kondisi, seperti saat hujan badai terjadi, ada teman pendakian yang cedra, dll, hal itu menjadi pilihan yang sangat tepat, pendaki profesional pasti tahu kapan waktunya turun dan kapan waktunya berjuang melangkahkan kaki menuju puncak. Bisa jadi, gagal muncak adalah cara tuhan menyelamatkanmu dari bencana besar.


15. Melihat Pasangan Digandeng Orang Lain di Depan Mata

Melihat pasangan jalan di depan mata sambil gandengan dengan orang lain. -Syamsu Satuduatiga

Iya, itulah salah satu resiko mengajak pasangan mendaki gunung, gimana lagi, kita-kita gak tega kalau melihat seorang wanita sedang kesusahan bergelut dengan tanjakan sadis.


16. Bertemu Dengan Pendaki Sombong

Ketika nyapa orang, tapi yang disapa diem aja, di situ saya merasa kena zonk internasional wkwkwkwk. -M Nurul Hidayatullah
Pendaki yang gak mau bawa cerrier, pengennya digendong mulu dan gak mau kerja. -Arry Arfan Sidik
Berpapasan tapi tidak saling tegur sapa. -Daffe BRnd
Melihat orang yang sok,, sombong DSBG. -Sendy Adi Putranto

Hari ini, sesuatu yang sangat disesali adalah hilangnya keramahan antara pendaki. Dulu, kalau kehabisan rokok atau butuh obat-obatan yang gak kebawa tidak susah-susah harus malu memintanya kepada pendaki lain, mereka yang manawarkannya sendiri. Sekarang, saling sapa pun enggan, senyum pun terpaksa, bertegur pun hanya saat di atas gunung. Berjalan di atas gunung gak ada bedanya berjalan di atas lantai mall yang bersih mengkilat, sunligth.


17. Ketemu Mantan

Papasan (ketemu) di track dengan mantan yang sedang mendaki bareng dengan pacar barunya. -Erlangga

Dan mantan itu terlihat lebih cantik/ganteng dibanding saat pacaran dengan kita. Jleb dah. Senyumin, nyapa atau pura-pura gak liat?.


18. Gunung yang Dikomersilkan Oleh Pihak Tertentu

Untuk saat ini, biaya registrasi yang semakin mahal. -Gerry Zwagerry

i'm not coment.


19. Melihat Orang Pacaran, Padahal Aku Jomblo





Paling sebel tuh pas mendaki melihat banyak yang bawa pasangan #savejomblopetualang. -Iwan Ari Setiadi
Melihat mereka yang bercinta dan gua ngenes karena jomblo. -Akbar Pitrian Saputra
Setiap hal yang merusak pemandangan kaum jomblo. -Anisa Nur Laila
Jalannya sama gua, pacarannya sama sahabat gue. -Dhy Dudhung Japra
Lihat yang lain berpasangan dan aku cuma sendirian. #savejomblo -
Cape kedinginan dan gak ada yang ngengetin. -Ginanjar Tata Wilujeng
Kanan, kiri, depan, belakang isinya orang gandengan, sementara saya nggak ada yang gandeng. -Novita Tyas Safitri

Yup, itulah daftar 19 hal yang tidak disukai dalam pendakian yang diambil dari pengalaman 53 pendaki di Indonesia. Apakah kamu pernah mengalami hal yang tidak disukai saat mendaki, tapi tidak disebutkan di atas?. Jika iya, kamu bisa menuliskannya di komentar ya.


Perhatian: 40% dari artikel di atas berisi hiburan semata dan tidak perlu dianggap serius.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menurut 53 Pendaki Gunung Ini, Ada 19 Hal yang Tidak Disukai Saat Mendaki Gunung"

Post a Comment