Sejarah Gunung Raung Dalam 5 Abad Terakhir

sejarah gunung raung yang mengerikan

Gunung Raung, memiliki ketinggian 3.332 mdpl, merupakan bagian dalam serangkaian pegunungan Ijen yang terdiri dari beberapa gunung, termasuk di dalamnya adalah gunung Suket (2.950mdpl), gunung Pendil (2.338), gunung Merapi (2.800), gunung Rante (2.664), gunung Raung, gunung Remuk (2.092) dan kawasan Kawah Ijen.

Gunung Raung memiliki keindahan alam yang unik, saat menjamahi puncaknya, kamu dapat melihat sebuah kaldera yang kedalamannya mencapai 500 meter, yang sering mengeluarkan asap dan menghembuskan api. Selain itu, pemandangan lebih mengagumkan saat cuaca sedang cerah, kamu dapat melihat beberapa puncak gunung lain yang mengelilinginya dan hamparan kota Bali dari ketinggian.

Selain indah, gunung Raung juga dikenal sebagai gunung tua yang memiliki berbagai misteri di dalamnya dan menyimpan sejarah yang sangat panjang. Bila kamu ingin mengetahui berbagai macam misteri gunung Raung, sebaiknya kamu membaca 5 misteri gunung Raung di Banyuwangi. Namun, jika kamu ingin mengetahui tentang sejarahnya, maka bacalah tulisan ini sampai selesai.

Sejarah Gunung Raung Dalam 5 Abad Terakhir

Asal-Usul Nama Gunung Raung

Saat berada di puncak gunung Raung, tubuhmu akan dihentak oleh anging yang sangat kencang, angin itu bagaikan singa yang sedang meraung-raung. Jika pijakanmu kurang kokoh, angin yang sedang meraung tersebut dapat membuat tubuhmu gontai dan jatuh masuk ke dalam kawah. Oleh sebab angin kecang tersebut, maka gunung yang terletak di ujung timur pulau Jawa ini disebut gunung Raung.

Sejarah Letusan Gunung Raung yang Mengerikan

Pos Pemantau Gunung Api Raung yang terletak di Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon, mencatat bahwa pada tahun 1586 adalah letusan gunung Raung yang pertama kalinya. Catatan menyebutkan bahwa letusan ini terjadi sangat hebat, memakan korban jiwa yang tidak sedikit dan meluluh lantahkan kawasan yang berada di sekitarnya.

Berselang sebelas tahun dari letusan pertama, yakni pada tahun 1597, gunung Raung kembali mengalami letusan dahsyat, tidak berbeda jauh, letusan ini juga mengakibatkan banyak orang harus meregang nyawa dan merusak beberapa desa yang terletak di sekitarnya.

Lagi-lagi, pada tahun 1638, seolah gunung Raung kembali mengamuk, letusan dahsyat kembali terjadi. Kali ini, letusannya mengakibatkan banjir dan mengalirkan lahar panas ke beberapa daerah di sekitarnya. Beberapa kecamatan di Kabupaten Banyuwangi merasakan langsung penderitaan yang disebabkan letusan gunung Raung kala itu.

Tahun 1730 merupakan letusan gunung Raung yang paling mengerikan, mengakibatkan hujan lahar dan abu di beberapa desa. Kawasan yang terkena dampaknya lebih luas dibanding letusan-letusan sebelumnya.

Sejarah kelam terus berlanjut, aktifitas gunung Raung terjadi dalam kurun waktu yang panjang, yakni pada tahun 1800 hingga 1808, akhirnya letusan terjadi di akhir kurun tersebut. Untungnya, kala itu tidak ada satu pun korban jiwa.

Tahun 1812 - 1814, seakan tidak mau tenang, gunung Raung kembali memperlihatkan aktivitas vulkaniknya, pada rentang waktu tersebut, gunung Raung sering mengeluarkan suara gemuruh dan mengakibatkan hujan abu vulkanik yang lebat.

Tanggal 12 - 14 April 1815, aktivitasnya meningkat, menyemburkan abu ke kawasan di sekitarnya, di antaranya adalah Situbondo, Besuki dan Probolinggo.

Tahun 1859, setelah tenang selama 44 tahun, gunung Raung kembali mengancam masyarakat sekitarnya, aktivitasnya kembali meningkat beberapa saat, hingga akhirnya kembali kondusif.

Tanggal 6 Juni 1864, gunung Raung mengeluarkan suara gemuruh dan membuat siang hari di tanggal tersebut menjadi gelap gulita.

Tahun 1881, 1885, 1890 dan 1896, gunung Raung mengalami peningkatan aktivitas vulkanik, beberapa gejala terjadi pada tahun-tahun tersebut, di antaranya adalah Paroksisma, mengeluarkan suara gemuruh, hujan abu di kawasan Banyuwangi dan terjadi guncangan di kawasan Situbondo.

Tanggal 16 Februari 1902, aktivitasnya menghasilkan kerucut pusat.

Bulan Mei - Desember 1913, gunung berbahaya ini kembali mengeluarkan suara gemuruh, bahkan terdengar pula dentuman yang sangat keras. Hal serupa terjadi juga pada tahun 1915, 1916 dan 1917.

Tahun 1921 dan 1924, lava mengalir di dalam kaldera.

Tahun 1927, gunung Raung kembali mengancam, hampir mengulang sejarah kelam pada tahun 1730, mengeluarkan asap cendewan dan menyemburkan abu sejauh 30 kilometer. Pada tanggal 2 Agustus di tahun tersebut, terdengar dentuman yang memekakan telinga, sangat keras.

Pada tahun 1928, 1929, 1933 dan tahun 1945, lava mengalir di dalam kaldera, aliran tersebut dapat terlihat di celah-celah kaldera, berwarna merah dan sangat menakutkan.

Tanggal 31 Januari - 18 Maret 1956, gunung Raung kembali memperlihatkan kesadisannya, menyemburkan awan panas hingga 6 kilometer di atas puncak. Awan panas menyebar hingga radius 200 meter dari puncak.

Sepanjang tahun 1956 - 1986, gunung Raung tidak mau diam, dalam beberapa kesempatan, ia menyemburkan asap panas.

Tanggal 17 Oktober 2012, untuk terakhir kalinya gunung Raung kembali tidak tenang, mengalami peningkatan status menjadi Waspada dan pada tanggal 22 Oktober, statusnya kembali meningkat menjadi Siaga.

Baca juga : 4 tingkatan status gunung berapi di Indonesia

Bahkan, pada saat itu, PVMBG mengeluarkan pernyataan bahwa sejatinya gunung Raung sudah meletus dalam kategori erupsi minor, untungnya letusan tersebut hanya terjadi di dalam kaldera dan tidak sampai keluar. Pernyataan ini berdasarkan pemantauan dari satelit milik Amerika Serikat.
Gunung Raung punya sejarah letusan yang sangat mengerikan
Demikian adalah sejarah gunung Raung dalam 5 abad terakhir yang bisa saya sampaikan. Semoga sejarah kelam di atas tidak pernah terulang kembali, mengingat Raung merupakan sebuah gunung yang besar dan tinggi.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sejarah Gunung Raung Dalam 5 Abad Terakhir"

Post a Comment