Sejarah Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro

sejarah gunung sumbing dan gunung sindoro

Gunung Sumbing berada di dekat gunung Sindoro, keduanya sangat populer di kalangan para pendaki, seperti saudara kembar, bila kita sedang membahas salah satunya, pastilah satu lainnya ikut dibahas. Seperti kali ini, maksud saya hanya ingin menulis sejarah gunung Sumbing, namun tetap saja saya harus menuliskan tentang gunung Sindoro juga. Oleh sebab itu, tulisan ini dikasih judul;

Sejarah Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro

Gunung Sumbing

Ketinggiannya mencapai 3.371 Mdpl, gunung Sumbing menempati urutan ke-2 dalam 7 gunung tertinggi di provinsi Jawa Tengah, setelah gunung Slamet (3,428 mdpl), serta menempati urutan ke-3 dalam 7 gunung tertinggi di pulau Jawa, setelah gunung Semeru (3,676 mdpl) di Jawa Timur dan gunung Slamet di Jawa Tengah.

Letaknya berada di perbatasan 3 kabupaten, yaitu Kabupaten Magelang, Wonosobo dan Kabupaten Temanggung. Untuk mengetahui informasi jalur pendakian gunung Sumbing, kamu dapat membacanya dalam tulisan yang berjudul jalur pendakian gunung Sumbing via Kaliangkrik.

Sedangkan, kamu dapat membaca 11 misteri gunung Sumbing untuk mengetahui setiap misteri yang ada di dalamnya.

Gunung Sindoro

Ketinggiannya mencapai 3.150 mdpl, gunung Sindoro merupakan gunung tertinggi ke-4 di provinsi Jawa Tengah. Gunung Sindoro juga merupakan gunung berapi aktif, dalam sejarah letusannya, gunung satu ini tidak terlalu ekstrim. Sebab, setiap letusannya terjadi dalam sekala ringan dan sedang.

Untuk mengetahui segala misteri yang ada di gunung Sindoro, sebaiknya kamu membaca 9 misteri gunung Sindoro, tempat bersemayamnya para bidadari.

Sejarah Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro

Kisah bermula dari sebuah keluarga yang memiliki sepasang putera kembar, sang ayah bekerja sebagai petani dan ibu disibukan oleh anak kembarnya, terkadang ia juga ikut ke ladang menemani suaminya. Kehidupan mereka diselaraskan dengan ritme alam pedesaan.

Setiap pagi, mereka pergi ke ladang, melakukan berbagai aktifitas bertani, seperti mencangkul, membenih atau hanya berjaga dari serangan hama. Saat sinar matahari menyengat, mereka berteduh sambil beristirahat. Dan sore harinya, mereka pulang ke pondok sederhana yang terletak tidak jauh dari ladang. Setiap hari, seperti itulah perputaran kehidupan mereka, rutinitas seperti itu, nyaris tak berubah sepanjang waktu.

Namun, seperti saudara pada umumnya, si kembar selalu saja terlibat dalam sebuah pertikaian, sepanjang hari, mereka selalu saja bertengkar. Bahkan, masalah sepele pun dapat mencuatkan keributan di antara mereka.

Hingga pada suatu hari, sang ayah menampar keduanya karena sudah tidak kuat mendengar ocehan dan melihat pertikaian mereka. Kesabarannya sudah di ambang batas. Hingga akhirnya, bibir dari salah satu anak kembar itu robek, bahasa Jawa menyebutnya 'sumbing, akibat tamparan sang ayah.

Hingga pada akhirnya, kisah kedua anak kembar itu diabadikan lewat nama 2 gunung yang seakan kembar karena terletak berdampingan, yakni gunung Sindoro dan gunung Sumbing.

Gunung Sindoro menggambarkan salah satu anak yang memiliki perangai santun, karena ndoro dalam bahasa Jawa bermakna pada gambaran sikap santun, anak satu ini dijuluki si ndoro. Sedangkan gunung Sumbing menggambarkan satu anak lainnya yang bibirnya robek, dalam bahasa Jawa, bibir robek disebut juga sumbing.

Kisah sejarah di atas diambil dari cerita rakyat yang beredar di kalangan masyarakat Jawa.

Sejarah Meletusnya Gunung Sindoro

Sedikit sekali catatan tentang sejarah letusan yang terjadi di gunung Sindoro. Letusannya hanya tercatat sejak abad ke-19. Di bawah ini merupakan sejarah letusan dan peningkatan aktivitas vulkanik di gunung Sindoro yang terjadi sejak abad ke-19 Masehi;

1806 : letusan di puncak belum bisa dipastikan kejadiannya, apakah benar-benar terjadi atau tidak

1818 : Meskipun belum dapat memastikan tanggal dan bulan kejadiannya, namun kabarnya, letusan ini menerbangkan abu hingga pantai Pekalongan

1882 : Pada tanggal 1 - 7 April terjadi lelehan lava ke arah barat laut, letusan abu mencapai kawasan Kabumen

1883 : Para ahli sejarah meyakini bahwa letusan terjadi pada bulan Agustus, terjadi peningkatan aktifitas vulkanik

1887 : Ledakan terdengar pada tanggal 13 - 14 November

1902 : Dari tanggal 1 hingga 25 Mei, gunung Sindoro mengeluarkan lumpur dan melontarkan batu pijar yang untungnya jatuh kembali pada lubang lontaran

1908 : Terjadi pada tanggal 10 Februari, gunung Sindoro mengeluarkan suara gemuruh

1910 : Pada bulan Januari, terjadi peningkatan aktifitas, suara gemuruh terdengar di kawasan Temanggung dan sekitarnya

1970 : Setelah beristirahat selama 60 tahun, pada tahun ini, gunung Sindoro kembali mengeluarkan gejala meningkatnya aktifitas. Namun beruntung, gunung Sindoro kembali dalam keadaan kondusif. Peningkatan aktifitas ini terjadi dari tanggal 21 Oktober - 2 November

1973 : 3 orang, yakni Hamidi, Hadian dan Reksiwirogo melakukan pendakian sampai puncak, tapi mereka tidak melihat bekas peningkatan aktifitas vulkanik

2011 : Statusnya meningkat menjadi Waspada. ada katifitas vulkani dalam dan vulkani dangkal

Baca juga : tingkatan status gunung berapi di Indonesia

Demikian adalah informasi tentang sejarah gunung Sumbing dan Sindoro yang bisa disampaikan. Semoga bermanfaat dan membantumu untuk mengenal lebih jauh tentang ke-2 gunung kembar ini.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sejarah Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro"

Post a Comment